Monday, 2 June 2014

Siaran Pers : 

Animals Indonesia mendukung Poltabes Surabaya membongkar perdagangan satwa liar berkedok kebun binatang. 


Pemindahan satwa koleksi kebun binatang Surabaya ke beberapa lembaga konservasi ex situ lainnya, yang dilakukan oleh Tim Pengelola Sementara (TPS) yang dibentuk oleh Kementerian Kehutanan ternyata bermasalah. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini melaporkan para Tim Pengelola Sementara ke Poltabes Surabaya. Animals Indonesia merupakan perkumpulan yang bekerja melawan kejahatan dan kekejaman terhadap satwa, mendukung langkah hukum yang ditempuh Pemerintah Kota Surabaya, hal ini karena adanya kejanggalan dari pertukaran satwa yang dilakukan KBS kepada enam lembaga konservasi exsitu yang menerima satwa dari KBS. Kejanggalan tersebut seperti pertukaran 60 satwa dari 13 spesies diantaranya berupa 8 ekor jalak bali (Leucopsar Rothschildi), 3 ekor bekantan (Navalis larvatus), 3 ekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatrae), dan 2 orangutan (Pongo sp) dari KBS yang hanya mendapatkan imbalan berupa jerapah jantan saja. Kejanggalan lainnya yang terjadi adalah pertukaran 33 satwa yang termasuk orangutan (Pongo sp), banteng (Bos javanicus), kanguru tanah (Thylogale spp), dan pelikan kacamata (Plecanus conspicilatus), yang hanya ditukar dengan satu unit kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. pertukaran tersebut tidak sesuai dengan PP Nomor : 63 tahun 2013 tentang,TATA CARA MEMPEROLEH SPESIMEN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR UNTUK LEMBAGA KONSERVASI.

Elizabeth Laksmi, juru kampanye Animals Indonesia menyatakan:
“Perdagangan adalah ancaman utama pada satwa liar di Indonesia setelah hilangnya habitat. Kasus yang sedang ditangani Poltabes Surabaya ini, merupakan yang pertama di Indonesia. Ini adalah lompatan besar yang bisa dilakukan pemerintah untuk melawan mafia perdagangan satwa liar. Selama ini, bisnis perdagangan satwa liar yang melibatkan lembaga konservasi ex situ hampir tidak tersentuh oleh hukum. Kejanggalan pertukaran satwa yang dilakukan TPS tersebut sebagai diduga merupakan prkatek yang biasa terjadi dalam industri kebun binatang. Kami berharap Poltabes Surabaya menangani kasus ini dengan serius.”
“Pengusutan kasus ini juga merupakan langkah strategis untuk membersihkan orang - orang di dalam Kebun Binatang Surabaya yang selama ini turut menggerogoti dari dalam. Mereka yang dulunya terlibat akan terseret ke penjara. Dengan demikian, ke depannya, reformasi Kebun Binatang Surabaya tidak terganggu oleh mereka.”

Elizabeth Laksmi
Campaigner 
 Animals Indonesia 
0812 2710 3052
elizabeth@animalsindonesia.org

No comments:

Post a Comment