Tuesday, 16 February 2016

Setahun KoMaCi Fauna Transaksi Ilegal Satwa Hingga 740 Juta Rupiah

Kelompok pedagang satwa yang tergabung dalam akun jejaring sosial Kota Malang Cinta Fauna (KoMaCi Fauna) adalah media sosial jaringan pedagang satwa liar dilindungi dan tidak di lindungi yang ada di Kota Malang Jawa Timur.

Hingga akhir tahun 2015 Animals Indonesia dan Orangufriends telah memantau perdagangan satwa yang diperjualbelikan dalam kelompok ini. Berdasarkan data yang diperoleh telah ditemukan sebanyak 791 satwa baik yang dilindungi dan tidak dilindungi yang telah diedarkan oleh grup Facebook Komaci pada priode 2015 hingga Januari 2016.

Dari semua transaksi satwa dilindungi yang paling tinggi tingkat penjualannya adalah Kucing Hutan (Felis bengalensis) 144 ekor disusul posisi kedua adalah burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) 61 ekor dan burung predator termasuk jenis alap-alap 36 ekor. Peringkat ketiga dalam tren penjualan adalah Binturong (Arctictis binturong) 22 ekor. Sedangkan satwa tidak dilindungi yang sering diperdagangkan pertama adalah jenis Otter atau yang termasuk dalam kelompok Musang Air (Cynogale bennetti) 159 ekor yang kedua adalah Musang Biasa/Garangan (Herpestes javanicus).

Harga jual tertinggi satwa dilindungi adalah Binturong (Arctictis binturong) yang harganya Rp. 8.000.000,- Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang harganya hingga mencapai Rp. 6.000.000,- kedua adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) hingga mencapai Rp. 5.000.000,- dan Dari satwa yang telah diedarkan negara dirugikan hingga Rp. 740, 885,000. Jumlah nominal tersebut merupakan total sementara karena ada beberapa satwa yang belum diketahui harga penjualannya.

Selama setahun tren penjualan mengalami naik turun dan waktu tertinggi transaksi terjadi pada bulan juni 2015 total satwa yang terpublikasi adalah 163 ekor dan terendah adalah bulan agustus hanya 24 satwa yang terpublikasi.

Individu penjual yang tertinggi dalam memperjual belikan satwa adalah akun atas nama Natasha Pet Shop 86 kali penjualan dan yang kedua adalah akun atas nama Heru Budi Utomo dan akun atas nama Seno Dwi Putranto. Ketiga penjual tersebut lebih banyak menjual satwa dilindungi diantaranya adalah jenis burung elang termasuk alap-alap. Dari semua transaki  Natasha Pet Shop mencapai Rp            241.220.000.

Dari data di atas menunjukkan bahwa tingginya penjualan satwa karena dipicu permintaan satwa liar hidup dalam jumlah yang tinggi digunakan sebagai pet atau hewan kesayangan untuk dipelihara. Perdagangan satwa liar dapat memicu perburuan satwa liar di habitat alaminya sehingga dapat mengancam jumlah populasinya di alam.

Menurut Suwarno Direktur Animals Indonesia “ada puluhan kelompok pedagang satwa online melaui jejaring sosial facebook. Jika satu kelompok pedagang satwa Komaci bisa menjual hingga 791 ekor satwa dan uang transaki mencapai 740, 885,000 rupiah, maka dalam satu tahun semua kelompok pedagang jika ditotal bisa mencapai ratusan milyaran rupiah”.

“Kami terus mendesak agar kelompok-kelompok pedagang satwa online terus diawasi oleh pemerintah dan dilakukan upaya penegakan hukum agar perdagangan satwa dapat ditekan dan kami mendesak agar Facebook segera melakukan tindakan pemblokiran terhadap kelompok dan pelaku pedagang satwa melalui media sosial facebook tersebut”.

Jumlah populasi satwa liar di habitatnya terus mengalami penurunan selain faktor perburuan dan perdagangan juga dipicu oleh menurunnya luasan habitat satwa karena perambahan dan pembukaan hutan untuk industri perkebunan.

Perdagangan illegal satwa liar dilindungi adalah perbuatan melanggar UU No. 5 Tahun 1990 yang Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

No comments:

Post a Comment