Friday, 28 April 2017

Polres Lahat Gagalkan Perdagangan Kambing Hutan, Kucing Emas dan Satwa Lainnya

Kejahatan pada satwa liar kembali berhasil digagalkan oleh Polres Lahat di bantu oleh Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP) di Lahat Sumatera Selatan.

Operasi yang dilakukan 27 April 2017 mengamankan barang bukti  berupa 7 Kepala Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis sumatraensis), 1 offsetan Kucing Hutan Sumatera (Felis bengalensis), 1 kepala burung Rangkok Papan (Buceros bicornis), 1 kulit Kucing Emas (Profelis aurata), 3 lembar kulit Kijang (Muntiacus muntjak), 8 bagian tulang Harimau Sumatera dan 1 taring Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Penangkapan dilakukan di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.  Tim juga mengamankan 1 orang pedagang berinisial AP dan 1 orang saksi pemilik rumah yang akan digunakan sebagai transaksi satwa dilindungi ini.

“Ini merupakan operasi penangkapan pedagang satwa dengan barang bukti yang cukup besar di Sumatera Selatan. Dimana tim mengamankan barang bukti berupa 7 Kepala Kambing Hutan yang merupakan penangkapan pertama dan terbesar untuk kasus perdagangan Kambing Hutan di Indonesia, 1 offsetan Kucing Hutan, 1 kepala Burung Rangkong, 1 kulit Kucing Emas, 2 kulit Kijang, 8 bagian tulang harimau  dan 1 taring harimau yang hendak diperjualbelikan “ Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Pedagang menjual satwa secara online melalui Facebook maupun langsung. Satwa dijual dalam kondisi mati (offsetan) dan bagian tubuh lainnya secara terpisah dengan harga bervariasi antara Rp. 750.000 hingga Rp. 1.500.000.

Selama ini, AP mendapatkan bagian tubuh satwa dilindungi dari pemburu di dusun tempatnya dia tinggal yang berdekatan dengan kawasan konservasi, serta dari pemburu satwa di perkebunan masyarakat sekitar Sumatera Selatan. Bahkan AP dapat mendatangkan kepala burung rangkok dari kawasan Bangka.

Dari hasil pendalaman selama dua bulan terakhir, AP telah menjual kulit dan tulang dan taring Harimau Sumatera secara terpisah ke pembeli di Lampung. Menurut pengakuan AP selama menjalankan bisnis illegal menggunakan jasa travel dan pengiriman barang serta jasa angkutan bus antar provinsi. Selama ini AP merasa aman menjalankan bisnis gelap yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir karena merasa aman dengan sistem jual beli secara terputus.

“Pedagang ini terpantau di jual beli online facebook dan setelah dipantau dan di telusuri ternyata dia pemain besar untuk jual beli satwa offsetan yang masuk kategori dilindungi di wilayah Sumatera Selatan. Pedagang menjual satwa offsetan, kulit maupun bagian satwa dilindungi dengan kisaran 750.000 - 1.500.000 dan dia termasuk pemain pertama dari kelas pengepul yang mendapatkan barang secara langsung. Dan kita masih menunggu proses pengembangan lebih lanjut untuk kasus ini oleh pihak Polres Lahat” kata Suwarno, Ketua Animals Indonesia. “Kambing Hutan Sumatera dan Kucing Emas adalah satwa yang sangat langka dan sulit dijumpai di habitat alaminya, hal ini disebabkan kedua spesies tersebut hidup pada habitat khusus yakni di pegunungan terjal bebatuan dengan jumlah pakan yang cukup” imbuhnya.

Memperjual belikan satwa dilindungi maupun bagian-bagianya merupakan tindakan melawan hukum. Tersangka dapat dijerat dengan UU No.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah. Dan upaya penegakan hukum akan kita tunggu dalam proses ini. Apresiasi kita sampaikan kepada Polres Lahat yang dengan cepat merespon tindak kejahatan ini dan kita akan mengawal kasus ini hingga putusan pengadilan. Satwa yang diperjualbelikan merupakan satwa endemik Sumatera yang sangat langka dan dengan penegakan hukum yang tegas  berani akan membendung kejahatan ini terus berlangsung.

No comments:

Post a Comment