Monday, 16 October 2017

100 PERSEN PERDAGANGAN ELANG HASIL PERBURUAN ILLEGAL

Tak satupun pedagang (seller) dan makelar (reseller) menjual BOP hasil breeding. BOP dicuri oleh pemburu di kawasan konservasi dan hutan yang masih jadi habitat BOP lalu dijual atau dibeli seller. Dari tangan seller pertama bisa langsung ke kolektor, namun lebih banyak dijual lagi ke reseller (makelar). Dari reseller ini bisa hingga ke reseller ke 3, 4 terakir ke tangan kolektor.
Perlu diketahui bahwa proses menangkap yang kejam, proses mengangkut yang tidak benar (ala kadarnya) menyebabkan BOP banyak mati dalam proses pengiriman di bus, kapal, kereta dll. Kalau tak percaya silahkan cari sendiri informasinya, banyak buyer dan seller ribut karena hewan mati saat sampai di tangan pembeli, dan seller tak mau tanggungjawab.
Intinya, baik seller, buyer, kolektor adalah jaringan yang turut mempercepat kepunahan BOP itu sendiri.
Jika kolektor beralibi bahwa mereka memelihara dengan penuh kasih sayang dan makan yang cukup serta bisa breeding itu adalah pembodohan. Karena BOP mustahil bisa kawin dalam kondisi terikat oleh angklet dan perch.
Benar memang BOP di tangan kolektor dapat makan yang cukup, tapi tak mampu menggantikan kebutuhan mereka saat di alam. Dan tak sedikit BOP yang telah imprint tak mampu hidup di alam bebas saat dirilis karena karena sudah kehilangan sifat alami bertahan hidup dari predator dan kompetitor.
Just info: BOP bertelur saat musim kawin maksimal 3 biji, 2 menetas bahkan lebih banyak hanya satu ekor yang dapat bertahan hidup hingga dewasa. Selama mengasuh hingga satu tahun lebih, induk BOP gak akan bertelur lagi.
Yakinlah, falconer hanyalah anak2 alay yang selalu membela diri bahwa merekalah pecinta dan pelestari BOP sesungguhnya dan yang mereka lakukan selalu benar. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah bagian dari rantai kekejaman dan pemercepat laju kepunahan.
Kalau LEGAL kenapa takut COD.

No comments:

Post a Comment