Sunday, 31 December 2017

Catatan Akhir Tahun 2017 Animals Indonesia

Di tahun 2017 Animals Indonesia menjalankan tiga point penting Dalam upaya penyelamtan satwa liar dan habitatnya diantaranya adalah edukasi sekolah (school visit)tentang konservasi satwa dan habitatnya, monitoring dan penegakan hukum perdagangan illegal satwa dilindungi, rehabilitasi dan pelepasliaran satwa di habitatnya.

Dalam menjalankan kegiatan tersebut bekerjasama dengan berbagai pihak diantaranya Gakkum, Kepolisian, Centre for Orangutan Protection yang konsern terhadap perlindungan satwa serta masyarakat berupa informasi laporan melalui Hotline.

Program kegaitan edukasi dan penegakan hukum perdagangan illegal satwa liar dilindungi didukung pendanaan oleh The Forest Conservation Action Sumatera (TFCA-S). Berikut yang telah dilakukan Animals Indonesia selama tahun 2017.

1. Edukasi Sekolah
1.1. Pendidikan siswa sekolah dasar di Kecamatan Selangit, Musi Rawas.
Sejak tahun 2015, Animals Indonesia mendidik pelajar di lima sekolah dasar yang ada di Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas. Seluruh sekolah berada dalam zona penyangga kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah Sumatera Selatan. Program edukasi ini didukung oleh The Forest Conservation Action Sumatera (TFCA-S).
Kelima sekolah tersebut adalah SDN Napal Melintang, SDN Batu Gane, SDN Karang Panggung, SDN Taba Gindo, dan  SDN Taba Renah. Seluruh sekolah berbatasan langsung dengan TNKS.
Di tahun 2017 terjadi pengembangan program pembelajaran di kawasan yang menjadi area konflik satwa dengan manusia yang masuk dalam zona penyangga TNKS. Ketiga sekolah tersebut adalah SDN Pasenan, SDN Sri Pengantin dan SDN STL Ulu Terawas, Kecamatan Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Untuk menjangkau daerah ini harus ditempuh dengan jalan kaki dan beberapa kali menyebrangi sungai dan perkebunan.

Dari hasil edukasi selama dua tahun tersebut sudah menunjukkan keberhasilan yang lebih baik pada siswa dengan ditunjukkan dalam prilaku, pola pikir siswa tentang pentingnya menyelamatkan satwa dan habitatnya. Hal ini terukur dengan hasil uji akhir post tes siswa guna mengetahui tingkat keberhasilan tersebut.

Keberhasilan seperti ini tentu akan tetap kami dilanjutkan dengan program serupa pada siswa tingkat yang berbeda dengan tujuan semakin banyak siswa yang memahami keberadaan satwa dan hutan yang berada di sekitar tempat tinggalnya, baik sekolah yang ada di Selangit maupun di Kecamatan lain yang ada di Musi Rawas.

Materi diberikan secara terukur dengan Silabus, Rencana Pokok Pembelajaran sehingga seluruh materi yang disampaikan terjadwal dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan sosial di masyarakat.
Pembelajaran disampaikan secara menarik dengan media pembelajaran yang informatif dan mudah dipahami oleh siswa kelas empat dan lima. Selain pembelajaran di dalam kelas juga dilakukan praktik di luar kelas dengan melakukan pengamatan satwa di sekitar sekolah dan habitat satwa yang ada disekitar desa. Pembelajaran yang disampaikan dengan cara menarik dapat menumbuhkan semangat belajar siswa akan satwa dan habitatnya. Hal ini dibuktikan dengan semangatnya siswa menyambut para pengajar. Tentu metode pembelajaran menarik seperti ini tidak pernah mereka dapatkan, meskipun sudah lumrah digunakan di tempat lain, namun lokasi sekolah yang jauh dari modernisasi menjadikan hal sederhana menjadi sangat menarik.

Pertemuan dan pembelajaran dilakukan setiap seminggu sekali, dengan durasi waktu dua hingga tiga jam di tiap sekolah, dan pembelajaran dilakukan tiap semester secara bertahap.

1.2. Edukasi di SDN Kucur 3 Dau, Malang
SDN Kucur 3 Dau adalah sekolah yang berada di lereng Gunung Kawi sisi timur. Di daerah ini masih mudah dijumpai satwa dilindungi yang masuk dalam lahan pertanian masyarakat yakni Lutung Jawa, Kijang dan satwa lainnya.

Beberapa kasus perburuan masih ditemukan di sekitar daerah ini meski pemburu berasal dari luar dusun. Penyadar tahuan ini sangat penting sebab masyarakat terlibat langsung dalam setiap penanganan konflik satwa yang sedang terjadi terutama saat dilakukan pengusiran kembali ke habitatnya di hutan.

2. Penegakan hukum perdagangan illegal satwa dilindungi di Jawa dan Sumatera
2.1. Penangkapan pedagang Lutung Jawa di Lawang, Malang, Jawa Timur.
6 januari 2017, tim gabungan dari Gakkum Seksi II Jabalnusra dibantu Animals Indonesia dan COP berhasil menangkap seorang pedagang satwa secara online berinisial Setan Merah. Pelaku ditangkap di depan Stasiun Lawang, Malang. Dari tangan tersangka berhasil diamankan barang bukti berupa 4 (empat) ekor Lutung Jawa usia anak dan satu ekor masih memiliki tali pusar yang masih basah.

Seluruh barang bukti dititipkan di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa (JLC) Aspinall Foundation di Coban Talun, Kota Batu untuk dilakukan rehabilitasi dan perawatan. Pelaku telah menjalani proses persidangan dan mendapatkan vonis hukum dari pengadilan Negeri Malang.

2.2. Penangkapan pedagang Siamang dan Owa Sumatera di Lampung
Pada 25 Februari 2017, tim gabungan dari Gakkum Wilayah II Sumatera, Ditreskrimsus Polda Lampung dibantu Animals Indonesia dan COP berhasil menangkap seorang pedagang satwa online berinisial Avit Viper asal Lampung. Dari tangan pelaku berhasil diamankan di depan ATM BNI Ki. Maja Way Halim. Dari tangan tersangka berhasil diamankan Owa Sumatera yang masih bayi.

Penangkapan kepada pelaku di belakang GOR PKOR Bandar Lampung tepatnya di Pasar PKOR. Saat bertemu dengan pelaku, Bayi Owa yang berumur 3 bulan disimpan dalam tas punggung sedangkan Siamang disimpan di rumah rekan pelaku.

Pada 26 Februari 2017 pelaku dititipkan di tahanan Polda Lampung dan berkas dilimpahkan ke tim dari Polda, sedangkan barang bukti dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung untuk dirawat hingga siap untuk dilakukan pelepasliaran.
Setelah dilakukan penyelidikan ternyata Avit juga mendapatkan satwa yang dijual berasal dari daerah Ambarawa. Tim penegak hukum langsung melakukan pengejaran terhadap tersangka kedua di Desa Tanjung Rusa, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Tanggamus.
Pelaku telah menjalani proses hukum dan mendapatkan vonis dari Pengadilan Negeri Bandar Lampung.

2.3. Operasi pedagang tanduk Kambing Hutan Sumatera, Harimau Sumatera, Kucing Emas dan
satwa lainnya.

Pada 27 April 2017 tim gabungan yang terdiri dari Animals Indonesia dan COP membantu tim intelkam Polres Lahat untuk melakukan penangkapan pelaku pedagang berbagai jenis satwa dilindungi yang sudah mati dan offset.

Pelaku yang berinisial AP menjual satwa secara online dan secara langsung kepada pembeli di sekitar Sumatera dan Jawa. Penangkapan dilakukan di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.  Tim juga mengamankan 1 orang pedagang berinisial AP dan 1 orang saksi pemilik rumah yang akan digunakan sebagai transaksi satwa dilindungi ini.

Dari hasil operasi inidiamankan barang bukti  berupa:
·      7 Kepala Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis sumatraensis)
·      1 offset Kucing Hutan Sumatera(Felis bengalensis)
·      1 kepala burung Rangkok Papan (Buceros bicornis)
·      1 kulit Kucing Emas (Profelis aurata)
·      3 lembar kulit Kijang (Muntiacus muntjak)
·      8 bagian tulang Harimau Sumatera(Panthera tigris sumatrae
·      1 taring Harimau Sumatera(Panthera tigris sumatrae).
Selama ini, AP mendapatkan bagian tubuh satwa dilindungi dari pemburu di dusun tempatnya dia tinggal yang berdekatan dengan kawasan konservasi, serta dari pemburu satwa di perkebunan masyarakat sekitar Sumatera Selatan. Bahkan AP dapat mendatangkan kepala burung rangkok dari kawasan Bangka Belitung.

Dari hasil pendalaman selama dua bulan terakhir, AP telah menjual kulit, tulang dan taring Harimau Sumatera secara terpisah ke pembeli di Lampung. Menurut pengakuan AP selama menjalankan bisnis illegal ini menggunakan jasa travel dan jasa pengiriman barang serta jasa angkutan bus antar provinsi. Selama ini AP merasa aman menjalankan bisnis gelap yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir karena merasa aman dengan sistem jual beli secara terputus.

2.4. Operasi penangkapan pedagang burung elang di Malang, Jawa Timur
Penangkapan pedagang burung elang di Malang, Jawa Timur ini termasuk penangkapan pedagang burung elang jawa terbesar di Indonesia.

Pada 14 Juli 2017, Tim gabungan dari Gakkum Wilayah II Jabalnusra dibantu Animals Indonesia dan COP berhasil membongkar jaringan pedagang burung elang yang ada di Malang Jawa Timur. dari operasi ini berhasil diamankan dua orang pelaku yang bernama Adi dan Goopal. Kedua pelaku sudah termasuk dalam kategori bandar besar di Indonesia pedagang semua jenis burung elang.

Kedua pelaku ditangkap di dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Dari tangan kedua pelaku berhasil diamankan 17 ekor satwa yakni 15 ekor burung elang, 1 ekor burung hantu Bubo Sumatera dan 1 ekor ular Sanca kembang.

Berikut rincian burung elang yang berhasil disita sebagai barang bukti yakni 4 ekor burung Elang Jawa (3 remaja dan 1 anakan), 2 ekor Elang Hitam, 8 ekor Elang Brontok, 1 ekor Elang Alap-Alap Tikus.
Pelaku diketahui sejak lama melakukan jual beli semua jenis burung elang. Burung didatangkan dari seluruh wilayah di Indonesia dan mampu menjual seluruh jenis burung elang ke seluruh Indonesia menggunakan jasa pengiriman barang dan pembayaran menggunakan sistim tranfer dan rekber.

Pelaku telah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Malang dan mendapatkan vonis hukuman penjara.

3. Pelepasliaran satwa dilindungi hasil rehabilitasi
Selama tahun 2017 Pusat Rehabilitasi Satwa (PPS) Sumatera Selatan telah melakukan pelepasliaran Kukang Sumatera sebanyak dua kali yakni satu ekor kukang di Bengkulu bersama BKSDA Bengkulu dan Satu ekor Kukang Sumatera di Musi Rawas.
Kedua kukang tersebut adalah satwa hasil penitipan BKSDA dan serahan dari warga sekitar TNKS yang mulai menyadari tentang satwa dilindungi dan diserahkannya kepada BKSDA  untuk dilakukan perawatan dan pelepasliaran.

No comments:

Post a Comment